GpYlTUY0GpOiTSGlBSAlTSG0TY==

Semangka Viral Menjadi Simbol Perjuangan Pelestina Melawan Israel

Ilustrasi Semangka Viral
Sejarah buah semangka menjadi simbol solidaritas dan perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel. (KO/Facebook @Adi Fikri Humaidi)

 KANAL ONE - Semangka yang kita kenal dengan mengandung berbagai macam vitamin, seperti vitamin A, vitamin C hingga senyawa fitokimia yang berfungsi sebagai antioksidan dan meningkatkan kesehatan tubuh.

Semangka kali ini bukan tentang kandungannya, namun semangka  viral sebagai simbol solidaritas terhadap perjuangan Palestina yang tengah menghadapi Israel.

Lantas apa arti simbol semangka bagi kehidupan Palestina saat ini?

1. Semangka Tumbuh Subur di Palestina
Buah semangka menjadi buah yang tumbuh subur di tanah Palestina dan mendapatkan julukan “The Fruit of Palestine.”

Meskipun terlihat tidak nyambung, namun ternyata buah semangka ini merepresentasikan Palestina karena warnanya yang mirip.

Semangka memiliki warna yang sama seperti bendera Palestina yakni merah, hijau, putih, dan hitam.

Akhirnya simbol semangka dipakai untuk memperlihatkan dukungan, dan protes terhadap agresi militer Israel.

Irisan semangka, dengan buahnya yang berwarna merah cerah, kulitnya yang berwarna hijau-putih, dan bintik-bintik bijinya yang berwarna hitam, mengandung semua warna bendera Palestina.

2. Semangka adalah bagian dari masakan dan budaya Palestina
Dikutip dari berbagia sumber, resep yang menggunakan buah ini adalah hal yang umum di seluruh masakan dan budaya Levantine. Tak terkecuali Palestina.

Melalui tulisan Ibrani, para sejarawan telah melacak migrasinya ke Timur Tengah, sejak tahun 200 M, di mana ia digunakan sebagai persepuluhan bersama dengan buah ara, anggur, dan delima.

Meskipun ada beberapa perbedaan pendapat tentang asal muasal buah ini, penelitian tentang sejarahnya secara umum menunjukkan bahwa semangka berasal dari Afrika Utara, kemungkinan besar Sudan.

3. Simbol protes warga Palestina
Semangka menjadi simbol protes warga Palestina sejak pendudukan Israel yang didukung Inggris pada tahun 1960an.

Kemudian pada tahun 1967, selama Perang Enam Hari yang terjadi antara Israel dan negara-negara tetangga termasuk Mesir, Suriah, dan Yordania, pemerintah Israel melarang pengibaran bendera Palestina di dalam perbatasannya untuk membatasi nasionalisme Palestina dan Arab.

Dari data United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) dari Kementerian Kesehatan Gaza dan keterangan resmi Israel, selama periode 7 Oktober-1 November 2023, lebih dari 8.900 warga Palestina tewas akibat perang antara Israel dan kelompok Hamas.

Korban Palestina paling banyak berada di Jalur Gaza, yakni korban jiwa 8.805 orang dan korban luka 22.240 orang. Sementara di wilayah Tepi Barat korban jiwanya 128 orang dan korban luka 2.274 orang. Dalam periode sama, jumlah total korban jiwa dari pihak Israel sekitar 1.416 orang dan korban lukanya 5.413 orang.(KO_01)

Komentar0

Bebas berkomentar. Sesuai Undang-undang Republik Indonesia. Link aktif auto sensor.

Cari Berita Lain di Google News
@lombokepo