GpYlTUY0GpOiTSGlBSAlTSG0TY==

Ubah Paradigma, Jadikan Ramadhan Peak Season Pariwisata Indonesia


 Oleh: Taufan Rahmadi
Ahli Strategi Pariwisata Nasional


Bagi pelaku pariwisata Indonesia, Ramadan identik sebagai low season alias bulan yang sepi. Pergerakan wisatawan umumnya terbatas pada momen tersebut. Menjadikan angka keterisian hotel, aneka transaksi oleh-oleh dan kuliner, hingga ticketing dan travel seolah tiarap.

Padahal, jika mampu dikemas dengan baik, Ramadan seharusnya menjadi modal berharga. Ingat, Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Dan pergerakan muslim traveler terus meningkat dari waktu ke waktu.

Tengoklah Thailand, negara dengan umat muslim minoritas ini justru menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan muslim. Negeri Gajah Putih berhasil mengemas diri. Mereka menciptakan kawasan wisata yang ramah terhadap komunitas Islam.

Dengan konsep muslim friendly tourism, Thailand menjadi salah satu kegemaran pelancong beragama Islam. Polanya sederhana, menyediakan makanan halal, memberi info lokasi tempat peribadatan, hingga memasang arah kiblat, menyediakan sajadah, dan Alquran di hotel.

Bali seharusnya bisa seperti Thailand. Alam Bali jelas tak kalah. Sebagai daerah pariwisata nomor wahid di Indonesia, Bali juga kerap menjadi salah satu list teratas pelancong muslim.

Sehingga bagi yang ingin berpuasa sambil tetap merasakan Vives liburan tropis, Bali sepatutnya masuk kategori itu. Kini tinggal bagaimana kita mengemas dan menjualnya pada wisatawan muslim seluruh dunia.

Berikutnya ada Malaysia. Negara jiran yang sangat digemari wisatawan timur tengah, bahkan saat Ramadan. Alasannya sederhana, Malaysia sudah mampu mencitrakan diri sebagai kawasan mayoritas muslim yang nyaman untuk dikunjungi.

Berkaca dari kasus Malaysia, daerah semisal Lombok seharusnya bisa ditawarkan Indonesia. Kawasan yang juga dijuluki Pulai Seribu Masjid ini adalah daerah wisata yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Lombok sangat terbuka, disaat bersamaan, masyarakatnya juga sangat taat menjalankan ibadah. Sekali lagi, jika dikemas dengan baik, ini adalah modal berharga menarik wisatawan muslim dari berbagai penjuru dunia.

Mau beribadah gampang, mau berwisata juga tinggal pilih berbagai spot yang ada. Pantai hingga gunung, desa tradisional hingga Mataram yang modern lengkap tersaji.

Ingat, Lombok juga pernah memenangkan penghargaan wisata halal dunia. Sehingga sangat pas dikedepankan. Nama Lombok juga sedang naik daun seiring kesuksesan pagelaran MotoGP 2022. Sehingga seharusnya Lombok terus ditawarkan, bahkan saat Ramadan.

Negara ketiga yang bisa menjadi sumber referensi adalah Singapura. Negara kota yang berukuran mini ini sangat digemari pelancong yang menyukai wisata belanja. Dalam kasus itu, kita memiliki Jakarta dan Bandung, Jawa Barat. Dua daerah tetangga yang sangat potensial di ”Singapurakan”. Pusat-pusat perbelanjaan mewah dan megah tersedia di Jakarta. Sedangkan Bandung menawarkan wisata belanja dengan harga miring yang tetap mengedepankan kualitas.

Bagi wisatawan dalam negeri, daripada jauh ke negeri singa, tentu lebih mudah dan murah berbelanja di negeri sendiri. Pun demikian dengan wisatawan luar, Jakarta dan Bandung tidaklah kalah dari Singapura.

Bolanya ada di tangan pemerintah. Bagaimana mengemas dan mempromosikan. Bahkan selain daerah-daerah tersebut di atas, berbagai daerah di Indonesia juga memiliki keunikannya sendiri.

Selama Ramadan, aneka kuliner khas tiap daerah bermunculan, menjamur di tiap sudut kota. Wisatawan bisa kita tawarkan berbuka dengan aneka takjil khas dan kuliner menarik daerah.

Soal atraksi, Indonesia juga gudangnya. Dari pawai obor hingga perang petasan, dari tadarus malam hingga ngabuburit sore ada di sini. Bagi wisatawan muslim luar negeri, ini adalah hal baru yang sangat unik. Sekali lagi, tinggal bagaimana kita mengemasnya.

Kita juga memiliki aneka wisata religi. Sebut saja ziarah makam para wali penyebar Islam di nusantara ini. Ada pula tawaran wisata ziarah masjid-masjid kuno yang penuh nilai historis.

Ini tentunya sesuatu yang unik bagi pelancong asing. Kuncinya sekali lagi ada pada cara pemerintah mengemas dan menawarkannya. Dengan langkah yang tepat, Ramadan yang penuh keunikan di Indonesia seharusnya bisa menjadi Ramadan yang penuh berkah bagi dunia pariwisata.

Komentar0

Bebas berkomentar. Sesuai Undang-undang Republik Indonesia. Link aktif auto sensor.

Cari Berita Lain di Google News