GpYlTUY0GpOiTSGlBSAlTSG0TY==

Isra Mi'raj Peristiwa Penting Jalan Kedekatan Hamba dengan Sang Maha Pencipta

Ilustrasi perjalanan Rasulullah Muhammad SAW menerima perintah sholat lima waku yang dikenal dengan Isra' dan Mi'raj (Freepik/KO)
Ilustrasi perjalanan Rasulullah Muhammad SAW menerima perintah sholat lima waku yang dikenal dengan Isra' dan Mi'raj (Freepik/KO)

KANAL ONE
- Perjalanan Isra Mi'raj merupakan salah satu peristiwa penting bagi ummat islam dan merupakan tanda kekuasaan Allah yang tidak terbatas ruang dan waktu..

Isra Mi'raj adalah dua perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam waktu satu malam.

Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan biasa bagi Rasulullah SAW.

Isra Mi'raj merupakan peristiwa Nabi Muhammad SAW mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam.

Peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah sekaligus titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga dan menjadi bukti tentang kehamakuasaan Allah SWT.

Karena ketika itulah salat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini.

Walaupun begitu, peristiwa ini juga dikatakan memuat berbagai hal yang membuat Rasullullah SAW sedih.

Makna Isra Mi'raj seperti dilansir dari kemenag.go.id

1. Sebagaimana tercermin dari ayat yang mengemukakan peristiwa Isra' Mi'raj, yang dimulai dengan ''tasbih'', juga peristiwa pembersihan dada Nabi dengan air zamzam ditambah dengan wudlu.

Dalam konteks keindonesiaan, hal ini dapat diwujudkan dengan eformasi moral (revolusi mental) yang dimulai dari tingkat aparaturnya.

2. Selain integritas moral (akhlaqul karimah), yang tidak kalah pentingnya adalah belajar kepada sejarah.

3. Dengan integritas moral serta nilai-nilai kesejahteraan itu, diharapkan sebuah kepemimpinan dapat berjalan dengan benar dan tidak mudah terpincut godaan, sebagaimana teladan Nabi ketika melakukan Mi'raj-nya.

4. Hendaknya kebijakan seorang pemimpin membumi kepada hati dan kebutuhan (rakyat) yang dipimpinnya.

Dalam peristiwa Isra' Mi'raj, hal itu telah diteladankan Nabi saw, ketika beliau sudi kembali (turun) ke bumi setelah bertemu Allah.

Padahal pertemuan dengan Allah-lah cita-cita dan tujuan umat manusia, terlebih kaum sufi (para ''pencari Tuhan'').

5. Amanat Rasulullah saw untuk menegakkan salat, pada dasarnya merupakan suatu simbolisme yang mengajarkan prinsip kepemimpinan, yakni pola hubungan antara hamba (manusia) kepada Tuhannya dan antara manusia dengan sesamanya.

Penulis: KO_04
Editor: Zet

Komentar0

Bebas berkomentar. Sesuai Undang-undang Republik Indonesia. Link aktif auto sensor.

Cari Berita Lain di Google News